Surat Untuk Gaza 2

Posted: August 1, 2014 in surat pada tuhan

Kampung Padang Balang
Kuala Lumpur

 

19 November 2012

 

Kehadapan penduduk Palestin,

 

Segala puji bagi Allah yang meniupkan ketenangan ke dalam roh. Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Demi Kuda Perang yang tangkas berlari yang kedengaran kencang nafasnya. Serta mencetuskan api dari telapak kakinya. Dan meluru menyerbu musuh pada waktu Subuh. Sehingga menghamburkan debu pada waktu itu. Lalu menggempur ketika itu jua, di tengah-tengah kumpulan musuh. Tuhan yang memberikan cahaya di segenap alam, bukalah mata hati bahwa hidup tidak sendiri. Tuhan itu dekat, lebih dekat dari nadi yang berdenyut di antara kerongkong dan tulang dagu kita ini.

 

Selawat ke atas Muhammad, penghulu segala nabi. Al – Amin gelaran diberi, lembut perwatakannya dan membawa kebenaran Tuhan. Disebarkan ke seluruh alam, membawa kedamaian buat yang percaya adanya Tuhan. Memberi kemaafan, walau dikasari. Semoga kita semua berada dalam pelukan syafaat baginda Muhammad. Al-Mustafa Paragon.

 

Allahu ma’ana,

 

Kepada adik-adik kecil,

Kalian lekas sungguh dewasa. Kehilangan segala benda, percikan darah itu biasa, berpindah randah usah dikata. Telah kenal keperitan hidup, walaupun sepatutnya usia seperti kalian di tempat abang ini, bermain dengan girang. Pergi sekolah, melukis ahli keluarga, melukis ayah, emak, abang, adik, dan saudara-saudara yang lain, makan tengah hari, dan pulang disambut oleh mak. Tapi itu disini dik, di Kuala Lumpur. Abang pasti di sana, pergi sekolah sebelum subuh, untuk elak dari musuh, sampai sekolah, suara cikgu pelan-pelan saja, untuk elak dari musuh, sampai masa kelas lukisan, melukislah kau dik, lukisan kebebasan tanah airmu. Pulang rumah, dengar ibu, ada yang telah tiada. Sabarlah, “Innallaha Ma’a Sobirin”.

 

Kepada akak-akak yang berwajah manis,

Kalian tanpa gincu, bedak, wangian, dan semua alat solek. Tetap manis. Menyiapkan pakaian ayah, abang, suami, juga buat seisi rumah. Malu-malu bila bertemu dengan orang luar. Tapi bila ditanya soal tanah air, berapi-api sinar mata. Tanpa sedu sedan, berbangga cerita memberi bantuan kepada yang memerlukan. Bahkan ceritamu berlari membawa air mineral ke hospital itu saja sudah menyentuh hati saya. Dan kini sekali lagi bantuanmu diperlukan. Hospital Shifa’ menunggu pertukaran syif dari akak-akak manis yang menjadi jururawat di sana. Saban hari menjadi saksi pemergian teman juga saudara. Di depan mata semuanya pergi, sesayup kota zaytun. Sabarlah, “Innallaha Ma’a Sobirin”.

 

Kepada ibu-ibu yang lembut wajahnya,

Kalian adalah pembakar semangat paling hebat, tiap malam didendangkan lagu semangat untuk menidurkan pejuang kecil. Bercerita hidup ini adalah satu pengembaraan, tiada masa untuk berpangku tangan. Setelah semuanya tidur, ibu-ibu yang begitu sayang akan keluarganya akan berdoa semoga Tuhan memberikan perlindungan. Keesokan paginya, di saat satu.satu.satu pergi ke lapangan, dan tidak pulang-pulang. Ibu-ibu meneruskan rutin harian, tanpa rasa penyesalan melepaskan. Senyum sambil melihat awan. Seperti kisah Rasha Ar Rantisi. Dengan penuh kesabaran, mengucapkan “Innallaha Ma’a Sobirin”.

 

Kepada pemuda-pemuda yang berjiwa kental,

Kalianlah yang paling ke depan menyambut segala tantangan yang tak diundang. Senantiasa bersiap siaga, menjadi pelindung dengan sesungguhnya. Setiap kali keluar rumah, mengharapkan kemenangan ataupun kesyahidan. Seandainya tidak pulang, senyuman bagi ahli keluarga yang dalam kerinduan. Tanpa ragu-ragu berdiri di puncak cita, menjerit, “mara….mara….mara”. Walaupun telah berpuluh tahun berjuang, tetap bersabar. Kerana kalian percaya “Innallaha Ma’a Sobirin”.

 

Saya disini hanya menonton berita, dan mengikut rapat dari twitter. Segala gambar, rakaman, juga tulisan dari sana. Palestin. Saya ini tiada apa yang mampu diberi. Sekadar tulisan yang tak terbaca olehmu adik-adik kecil, akak-akak, ibu-ibu, maupun pemuda-pemuda. Namun tulisan ini saya akan dibaca berulang-ulang kali tanpa sedikit pun merasa bosan, supaya saya sendiri dapat merasa apa yang mereka rasa.

 

Kepada Tuhan,

Lindungilah saudara-saudaraku disana. Aku tiada apa, aku sedekahkan seluruh amalan hidupku yang diterima olehmu menjadi benteng buat penduduk disana.

 

Untukmu, wahai Qudus nan sejahtera

 

 

 

Yang hanya ada Tuhan dan kekasihnya
perewa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s