Surat Pada Tuhan (tutup mata)

Posted: June 5, 2012 in surat pada tuhan

Lorong-lorong cinta yang kosong,

Pertemuan dengan cinta yang agung,

Di kampung abadi bernama hati,

Tuhan yang Maha Mengetahui.

Segala puji bagi Allah, Rabbul lamin, Ar Rahman Maha Pengasih, Ar Rahim Maha Penyayang. Tuhan yang menurunkan segala bentuk keindahan. Tuhan yang memberikan manusia rasa kenikmatan api sedangkan asal muassal dari neraka yang azabnya tidak terperi. Semoga kami semua dijauhkan dari segala hal yang membawa keburukan.

Surat ini aku tulis seperti biasa Tuhan, mengadu kepada Kau Yang Maha Mengetahui. Aku punya teman, dia ada membaca surat yang telah aku tujukan pada Kau Tuhanku. Temanku berkata, apakah surat pada Tuhan itu ditulis dengan penuh kesedihan? Entah Tuhan, aku bukan melupakan Kau saat aku berada dalam keadaan bahgia. Cuma aku lebih terkesan menulis bait-bait kata yang merintih pada pencipta, supaya kelak ia menjadi peringatan pada diriku dan juga pada teman yang membacanya. Aku ada baca buku Almarhum Hamka, guru yang aku tidak pernah jumpa tapi aku sayang. Semoga beliau berada di kalangan orang-orang yang kau beri nikmat di sana. Pada bukunya yang bertajuk di dalam lembah kehidupan, dihadiahkan padaku oleh teman yang akrab. Akrab? Entah, definasi akrab itu pun punyai pelbagai versi. Di dalam buku itu ada menyebut, di saat kita bergembira masih ada yang berduka, di saat kita sudah tidak lelah untuk mengeluh, masih ada yang mengeluh, dan di saat kita mampu tersenyum, masih ada yang mampu tersenyum tapi jiwanya murung. Surat aku pada kali ini, ingin bertanya pada Kau Tuhanku, soal cinta. Sekiranya cinta sesama insan itu bukanlah lagi menjadi satu kekuatan, bahkan membuatkan diri menjadi ketakutan dan penuh kegelisahan. Apa guna cinta itu lagi? Ouh lupa, surat ini ditulis juga kerana aku punya teman yang begitu dalam luka di hatinya. Aku tidak tahu bagaimana mahu menutupi luka itu. Kerana ditakuti aku menambahkan lagi lukanya itu.

Tuhan, kau yang Maha Lembut pada setiap makhluk. Berikanlah pengertian supaya kelak kami temui jalan yang akan membawa kami ke dalam lembah kedamaian. Aku merenung jauh, saat aku mendesak fikiranku memikirkan perihal masa depan. Aku kerap mencongak berapa banyak lagi harus dikumpul, berapa lama lagi harus bersabar, berapa,berapa,berapa? Di saat aku menulis surat padaMu Tuhan. Aku membelakangi jendela, yang mana diluarnya hanyalah gelap malam. Cahaya yang gelap, hmmmm…..itupun jika cahaya itu berguna. Ampunkan aku Tuhan sekiranya tulisan aku kali ini tidak tahu ke mana hala. Aku semakin letih dan mengantuk, maka aku menggelapkan dunia dengan menutup mata.

Segala yang baik itu datangnya dari Kau, yang buruk itu datang dari aku hamba yang tidak pandai menjaga. Dan kedua2nya, bahkan semuanya datang dari Kau belaka. Untuk mengajar aku, Manusia.

Yang menutup mata

perewa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s